Jual/Kredit Rumah/Tanah di Duri Riau ? Hubungi 0896 2003 7000 / 0852 7811 1234 ( TELP/WA )



Email

| Tentang | Ketentuan| Privacy & Policy | Disclaimer | | Alamat : Jalan Sudirman No.40 Duri Riau 28884 |
| ☎ Telpon : (0765) 594246 ☏ Mobile : 0896 2003 7000 / 0852 7811 1234( TELP/WA ) | ✉ Email :admin@duririau.com |

hanya Bulan ini, Program RUMAH GRATIS ? Siapa Mau ? klik : www.rumahpublik.com

Kamis, 04 September 2014

Kebiadaban Soeharto dengan Dalih PKI


Meletusnya gerakan 30 september di jakarta, ternyata imbas yang terjadi di daerah-daerah yang jaraknya beratus-ratus bahkan beribu-ribu kilo meter dari jakarta jauh lebih mengerikan. Di daerah yang Kebanyakan masyarakatnya tidak paham bahkan tidak tahu sama sekali apa yang terjadi dijakarta waktu itu harus menanggung kesalahan yang   tidak mereka lakukan dan tidak mereka pahami. Tidak tanggung-tanggung nyawa, martabat, harga diri, hak hidup dan kemerdekaan mereka diambil paksa untuk jadi penebus sesuatu yang tidak pernah mereka tahu apalagi mereka lakukan.

Dengan terbunuhnya 6 perwira tinggi militer, akhirnya Suharto mengambil alih kekuasaan angkatan bersenjata. Pada tanggal 2 Oktober 1965, Suharto menguasai militer . Suharto  mengendalikan ibukota dan mulai melakukan kampanye hitam yang ditujukan kepada PKIProvokasi, propaganda, fitnah dan isu menyesatkan dilakukan dengan gencar, dan berhasil meyakinkan orang-orang indonesia bahwa PKI adalah dalang dari peristiwa ini. Seruan pembersihan orang-orang PKI diseluruh Indonesia direspon sebagai "Seruan pembantaian" oleh masyarakat yang telah diliputi kebencian pada PKI akibat dari tindakan biadab provokativ  militer Suharto. Seruan pembersihan atau tepatnya "Pesta kebiadaban Suharto" dimulai pada bulan Oktober 1965 di jakarta, yang selanjutnya menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, sumatera dan kalimantan. Berikut beberapa fakta kelam sejarah Ephoria pembantaian yang dimotori oleh militer Suharto yang terjadi di bebrapa daerah di Indonesia.
PEMBANTAIAN DI KOTA SALIDO-PAINAN dan sekitarnya
Kota Salido-Painan, Dua kota kecil yang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera barat. Ketika Rakyat Indonesia dikejutkan oleh peristiwa 30 september 1965 yqng terjadi di jakarta, tidak ada bentrokan, tidak ada yang namanya konflik horisontal. Semua hidup tenang, rukun dan damai. Pemerintahan Kabupaten pesisir Selatan juga berjalan dengan baik dan normal.
Namun keadaan berubah dan menjadi bertolak belakang ketika masyarakat dikejutkan oleh kehadiran Komandan kodim painan, letkol Purnomo Sipur yang menteror masyarakat kota painan dan sekitarnya. Pasukan kodim itu dengan kejam dan brutal melakukan penangkapan atas beratus-ratus pemuka masyarakat, rakyat dan ninik mamak di pesisir Selatan kerinci. Beliau-beliau yang ditangkap digiring seperti menggiring ternak, dimasukan ke dalam penjara-penjara  dan dan digunduli. Sebagian disuntik oleh dokter, yang adalah seorang Wamilda (Wajib Militer darurat) dan dimuat ke sebuah dump truk yang biasa digunakan untuk mengangkut sampah, tanah dan pecahan batu dan dibawa ke bukit Pulai sekitar 10 km di luar kota Painan. Di sana, para pemuka masyarakat yang dijubelkan dalam dump truk itu, dituangkan dari dump truk seperti menuangkan sampah. Dan manusia-manusia yang berjatuhan di belakang dump truk itu, atas perintah dan komando Letkol Purnomo sipur, diberondong dengan senjata api. Jerit, pekik dan lolong manusia-manusia yang tak berdosa, menyebut nama Allah, menggema dibukit Pulai pada tanggal 9 Nopember 1965, Tubuh-tubuh korban secara paksa dihabisi nyawanya itu bergelimpangan bermandi darah, diiringi dengan sorak sorai dan tawa ria serdadu-serdadu brutal dan biadab pengikut jenderal suharto, dibawah komando Letkol. Purnomo sipur.
Syamsudin, seorang bekas anggota Mobrig, ditangkap oleh moliter suharto. tangan dan kakinya diikat pada dua buah pedati yang kemudian ditarik oleh dua ekor kerbau dengan arah yang berlawanan. Tubuh Syamsudin hancur berkecai. Potongan tubuhnya bertebaran dengan arah yang berserakan. Pesta ABRI yang brutal dan biadab ini mereka lakukan di depan anak dan isteri syamsudin, yang dipaksa untuk menyaksikan kebudayaan ABRI/Orde baru Suharto.
Nurhayani, seorang gadis remaja yang baru tamat SMP, ditangkap karena menghalag-halangi Letkol. Purnomo Sipur yang akan menagkap ayahnya. Perwira ABRI/Jenderal Suharto yang gagah perkasa ini, Memasukan Nurhayani kedalam Karung dan mengikatnya dan melemparkannya ke batang (sungai) Nilam air hadji. Para militer yng hebat dan perkasa itu, tertawa terbahak-bahak, sambil minum air kelapa muda, melihat karung yang berisi tubuh Nurhayani menggelepar-gelepar dibawa arus air. setelah pahlawan-pahlawan Suharto itu berlalu, keluarga dan sanak saudara Nurhayani, dengan raung tangis ,mengambil mayatnya dari sungai Nilam dan mengebumikan sesuai adat istiadat Minangkabau.
Berikut adalah sebagian nama-nama korban para pemuka masyarakat Saido-Painan yang menjadi korban kebiadaban Suharto
1.Ilyas Radjo Bungsu - Perintis Kemerdekaan R.I., Veteran Pejuang R.I. (ikutserta aktip mendirikan TNI dari BKR, TKR,
  TP, dll. dalam proses perjuangan kemerdekaan R.I., dan pengisi kemerdekaan R.I.;
2.Muhammad Yunus - Veteran Pejuang R.I dan Pegawai Departemen Penerangan;
3.Hanif Yunus - Pelajar SMEA; - aktivis Pemuda dibidang Sastra dan Kesenian Rakyat;
4.Alimuddin - Guru Sekolah Rakyat
5.Rabaini - Veteran Pejuang R.I. dan Tua Kampung;
6.Rajab - Veteran Pejuang R.I. Tua Kampung -aktivis masyarakat untuk pembangunan dalam bentuk gotongroyong;
7.Yunus Djamil - Pengusaha /Koperasi Rakyat;
8.Syofyan - Pengusaha/Koperasi Perikanan;
9.Mali - Pengusaha/Pedagang hasil pertanian; 
10.Ismail - Pengusaha/Perternakan;
11.Zubir - Pedagang hasil-hasil hutan;
12.Zaininar - Guru Sekolah Rakyat;
13.Maas - Petani;
14.Djamirus - Barisan Tani;
15.Saidinia Abbas - Pegawai departemen Penerangan,
16.Idris - Veteran pejuangnR.I,Sekretaris Subsekom PKI;
17.Rusli - Aktivis Buruh,
18.Ali Basril - Camat - Kecamatan Batangkas;
19.Mansyah - Pegawai Pajak;
20.Darusat - Urusan Kehutanan
21.Usman Latif - Aktivis urusan Pertanian
22.Syamsir Alam - Veteran Pejuang R.I.
23.Anas Hamid - Guru sekolah
24.Indra - Pegawai Camat-Tarusan;
25.Bachtiar - Pagawai Camat - Tarusan;
26.Imam Daralat - BTI
27.Wali Kadir - Wali Negeri/Lurah - Surantih
28.Jamirus - Pekerja/Buruh
29.Mansarudin - Aktivis Masyarakat kecamatan Kambang;
30.Sidi Salim - Aktivis Masyarakat kecamatan Kambang;
31.Nurdin - Aktivis masarakat dibidang pertanian daerah Kambang
32.Rahman - Pedagang
33.Agus Labak - pemuka masyarakat daerah Surantih,
34.Debok -
35. Cupu - Veteran Pejuang R.I., daerah kecamatan Air hadji
36. Ridwan Ber - kecamatan Indrapura,
37. Mansur K. - Kecamatan daerah Tapan
38. Rifai - daerah Lumpo
39. Lamid - daerah kecamatan Sungai Tunu;
40.Wali Gafar - Wali Negeri/Lurah kecamatan Sungai Tunu;
41.Nukman Jao - Pekerja kenegerian Sungai Tunu;
42.Aliudin - Pemuda Balai Selasa,
43. Palim - Pemuda Balaiselasa,
44.Ajis Jamin - Sekretaris Secom PKI Balaiselasa,
45. Nudar - dari BTI
46.Jirin - dari BTI
47.Halil Pasya - Anggota DPRD Painan
Beliau-beliau tersebut disiksa, digunduli, di suntik oleh seorang DokterWamilda, dan dibawa dengan Dump Truck ke Bukit Pulai, sekitar 10 KM dari Kantor Kodim di Painan. Dan di bawah Komando Letkol.Purnomo Sipur, pada Tanggal 9 November 1965, mereka dihabisi nyawanya.
Tahanan Politik yang mati dalam pemeriksaan/penyiksaan di KODIM-Painan, adalah:
1.Abbas Datuk Sati - Veteran Pejuang R.I.,Penghulku Adat, dari kelurahan Tambang,
2.Kasiran - Veteran Pejuang R.I.,Wali Negeri/Lurah negeri Salido,
3.Hamzah - Perintis Kemerdekaan, Veteran Pejuang R.I. Pengisi Kemerdekaan R.I., Pemuka Masyarakat Salido,
4.Buyung Tabing - Veteran Pejuang R.I.,Pegawai Perhutanan,
5.Kiram - Pegawai Departmen Penerangan - Balaiselasa,
6.Baharudin - Balaiselasa
7.Djulis - Balaiselasa
8.Darmansyah - Balaiselasa
9.Idris - Guru Sekolah Rakyat/Anggota DPRD-Tarusan
10.Alam Samad - Veteran Pejuang R.I:, Pegawai Negeri, daerah Api-Api,
11.Mat Asin - dari Barisan Tani
12.Ali Asam - Putra Mat Asin
13.Mansur - Serikat Buruh,

Yang dibunuh dengan cara penyuntikan di Kantor KODIM adalah:

1. Hadji Sunar - Veteran Pejuang R.I. - Aktivis Organisasi Veteran,
2. Sabirudin - Guru Sekolah Rakyat, Aktivis Pemuda,
3 .Djamaan - Pengusaha,
4 .Mak Usir - Pengusaha Perikanan,

Sumber :

Sangat Banyak dan Dari Fakta Real Laporan Asli Masyarakat
Kebetulan Bapak Penulis dari Pesisir Selatan


http://arkeologi.web.id/articles/arkeologi-kesejarahan/56-supersemar-gambaran-besar-jiwa-bangsa-kerdil?start=5

http://www.berdikarionline.com/gotong-royong/20130930/soeharto-dan-peristiwa-g30s-1965.html

http://www.slideshare.net/UtjeGP/john-roosa-dalih-pembunuhan-massal-g30-s-kudeta-soeharto

 

Tidak ada komentar: